Tampilkan postingan dengan label #muhasabahdiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #muhasabahdiri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Maret 2013

KERUDUNG KOK LEBAR BANGET....

Dengan nada lebih nyinyir, kali ini terdengar seperti itu. Saya ketawa kecil. Yah, sudah mulai terbiasa. Pandangan mata yang melihat dengan aneh, dan mungkin dalam hati bilang, "Old school banget, sih?"
Atau juga ceng-cengan seakan bilang, "...itu kerudung apa tenda? Kok lebar banget sih?"
Yang seperti ini, sudah senyumi saja.

Mungkin bukan saya saja, mungkin kita semua pernah mendengar. Ketika kerudung lebar itu menjadi perolokan. Bahkan menjadikannya identitas tradisional, kuno, terbelakang, tua, seperti ibu-ibu......Hai hari gini siapa yang ngga mau jadi ibu?? Konyol.. Dipanggil ibu Haji.. Ini lagi, siapa yang tak ingin menjadi tamu Allaah datang kerumah-Nya?

Lalu bagaimana??

Haruskah marah? - TIDAK!
Atau mengkuliahi dengan macam - macam ayat dan hadist? - Silakan kalau merasa mampu dan punya kompetensi atasnya. 
Atau harus diam saja, tersenyum kecil, mendoakan?
Mungkin harusnya seperti itu. Biar hidayah-Nya segera sampai ke dalam hati mereka.
Hati itu tidak terlihat bukan? 
Tidak terasa atau teraba...
Hati itu tempatnya di sini, di dalam tubuh yang mungkin kita tidak tau dimana tepatnya.

Prasangka, omongan apapun bentuknya adalah ciri seseorang. Jika dangkal, maka itupun menjadi bukti kedangkalan hati dan pikirannya. Biarkan. Pada saatnya biar Allaah saja yang akan menyadarkan..

Bukankah masih ada bagian dari bumi yang tidak terjangkau oleh akal? Maka itulah tempatnya perasaan, tempatnya iman. 

Seberapapun mengharap pujian manusia, rasanya tak akan habis. 
Masih akan selalu kurang.
Lalu sampai mana kita?


-Sebuah Renungan di saat lapang-

Jumat, 15 Maret 2013

Rindu Kami Padamu, yaa Rasul :'(

Bismillaah..

Barusan melihat pakaian Rasulullaah SAW, di foto yang di tag teman di facebook.
Maa sya Allaah, itulah pakaian yang digunakan Beliau SAW semasa hidup. Masih sangat amaze.



Betapa pakaian itulah yang pernah dipakai seseorang yang mulia, kekasih Allaah Ta'ala. Manusia paling baik akhlaknya yang berjuang tanpa henti dalam membela tegaknya tauhid. Laa illaaha' Illallaah, Muhammadan Rasulullaah.

Teringat satu riwayat ketika Rasul SAW diuji. Saat berdakwah, Beliau SAW dipukuli oleh umatnya, lalu Beliau berdoa :

اللهمَّ اغفر لقومي فإنهم لا يعلمُون

"Yaa Allaah, maafkanlah umatku, sesungguhnya mereka tidak tahu."
 Rasulullaah berdoa sambil mengusap darah di wajahnya..

Betapa mulianya..

Disaat sekarang, adakah manusia semulia Beliau SAW?
TIDAK!

Namun, apa yang kita lakukan? Sampai sekarangpun rasanya masih terasa berat ketika hendak menegakkan sunnah-sunnah beliau. Ah, masih jauh sekali daripada kaum terdahulu. Padahal di masa sekarang, cobaan tak seberat dulu.
Astaghfirullaah :'((

Jika Rasulullaah SAW harus babak belur ketika menjadi penyampai Tauhid, maka saat ini di Indonesia sepertinya tidak seberat itu. 

Jika Rasul SAW menyuruh wanita menutup aurat dengan kaffah, rasanya cobaannya hanya dibicarakan. Tak akan ada seseorang yang menarik jilbab kita hingga terlepas. Lalu apa sebenarnya yang menghalangi kita? :'(
[Yaa Rabb, kami berlindung kepada-Mu dari iman yang lemah dan hati yang tidak tulus]


pernah terbaca suatu riwayat saat Beliau SAW sedang sakaratul maut..


Tiba-tiba ada ucapan salam. “Boleh saya masuk?” lelaki itu bertanya. Namun Fatimah tidak mengizinkannya masuk ruangan. “Maaf, ayah saya sedang sakit, “kata Fatimah. Ia berbalik kembali dan menutup pintu.Nabi Muhammad saw. membuka matanya dan bertanya, “Siapa dia, putriku?”
“Aku tidak tahu ayah. Ini pertama kali aku melihatnya,” kata Fatimah lembut.
“Ketahuilah putriku, dia adalah orang yang menghapuskan kenikmatan sementara! Dialah yang menceraikan persahabatan di dunia. Dialah sang Malaikat Maut,” kata Rasulullah saw.
Fatimah menahan genangan air matanya.
Malaikat maut datang kepada-Nya, tetapi Rasulullah saw. bertanya mengapa Jibril tidak datang bersamanya. Kemudian Rasulullah saw. menatap putrinya dengan pandangan nanar, seolah-olah ia tak ingin kehilangan setiap bagian dari wajah putrinya.
Kemudian, Jibril dipanggil. Jibril sebenarnya telah siap dia langit untuk menyambut ruh Rasulullah sang pemimpin Bumi.
“Wahai Jibril, jelaskan kepadaku tentang hak-hakku di hadapan Allah!”, Rasulullah saw. meminta dengan suara yang sangat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka. Para malaikat sedang menunggu ruh Anda. Semua pintu Surga terbuka luas menunggu Anda” kata Jibril. Namun, kenyataannya, jawaban itu tidak membuat Rasulullah saw. lega.

Matanya masih penuh kekhawatiran.
“Anda tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril.
“Ceritakan tentang nasib umatku di masa depan?” kata Rasulullah saw.
“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, saya mendengar Allah berkata:” Aku haramkan Surga untuk semua orang, sebelum umat Muhammad memasukinya, ” kata Jibril. Waktu bagi malaikat Izrail melakukan pekerjaannya semakin dekat dan dekat.
Perlahan-lahan, ruh Rasulullah saw. dicabut.Tampak tubuh Rasulullah saw. bermandikan peluh, saraf lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit ini!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam sallalahu mengerang dengan perlahan.
Fatimah memejamkan mata, Ali yang duduk di sampingnya tertunduk dalam dan Jibril pun memalingkan mukanya.
“Apakah aku sedemikian menjijikkan sehingga engkau memalingkan muka wahai Jibril?” Rasulullah saw. bertanya.
“Siapa yang bisa tahan melihat Kekasih Allah di ambang sakaratul mautnya?” kata Jibril.
“Bukan untuk berlama-lama,” kemudian Rasulullah saw. mengerang karena sakit yang tak tertahankan.
“Ya Allah betapa besar Sakaratul maut ini. Berikan kepadaku semua rasa sakit, tapi jangan untuk Umatku.”
Tubuh Rasulullah saw. mendingin, kaki dan dadanya tidak bergerak lagi.
Dengan berlinang air mata, bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu.
Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw., “Jagalah shalat dan jagalah orang-orang lemah di antara kamu.”
Di luar ruangan, ada tangisan, ada kegaduhan. Para sahabat saling berpelukan. Fatimah menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Sekali lagi, Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw. dan dengan mulut yang telah membiru serta air mata berlinang, Rasulullah berucap lirih: “Ummatii , Ummatii, Ummatii…” “Umatku, umatku, umatku…“ 

dan begitulah saat Beliau meninggal pun, Beliau mengingat ummat. 
Namun pernahkah kita mengingat Beliau?


Allahumma sholli wa sallim 'alaa Nabiyyina Muhammad........


Senin, 14 Januari 2013

KISAH SEBUAH PISANG REBUS


Cerita dari seorang teman..
Peristiwa ini terjadi pada suatu acara seminar khusus lansia. Para lansia itu kebanyakan ialah para lansia penderita diabetes. Setiap minggunya mereka mengikuti senam diabetes dan rutin mengikuti petunjuk dokter. Tiba saatnya, sekotak snack itupun disajikan. Tapi jangan dipikir snack itu berisi makanan mewah. Cuma sebuah pisang rebus dan aqua kemasan gelas.
Singkat cerita, acarapun selesai.
Tiba-tiba seorang bapak, yang sebenarnya lebih pantas dipanggil kakek, berteriak memanggil temannya.
“Pak, pisangipun njenengan ketinggalan lho (Pak, pisangnya ketinggalan),” kata Bapak itu.
“Lho nggih to (Lho iya ya),” sambil membuka kotak,”wooh nggih, teng pundi nggih (oh iya, dimana ya)?”  Bapak itu terlihat bingung. Beliau kembali ke tempat duduknya sambil mencari-cari pisang tersebut.
Sebiji pisang rebus itu ternyata sudah raib.
Melihat kejadian itu, teman saya yang saat itu kebetulan bertugas, memberi si Bapak kotak yang baru. Kotak pisang rebus. Diterima kotak itu dengan mata berbinar.

             Kejadian tersebut adalah kejadian yang cukup membuat saya tersindir luar biasa. Bagaimana mungkin Bapak itu kembali mencari sebuah pisang rebus ke tempat duduknya hanya untuk mencari sebiji pisang rebus yang tertinggal. Sementara saya, kadang tidak habis memakan makanan yang disediakan panitia seminar, membiarkan tergeletak begitu saja. Padahal seringkali harganya lebih mahal daripada sebiji pisang rebus.
                Berapa harga sebuah pisang rebus?
                Untuk kita, saya yakin tidak banyak. Mungkin kita akan sangat rela meninggalkan sebiji pisang itu tertinggal daripada hanya harus kembali. Rasanya gengsi!
                Ya, GENGSI!
                Secara tidak sadar kita terbunuh gengsi. Sehingga merasa diri ini begitu tinggi, lupa arti menghargai.
                Kadang kita gengsi bertanya karena merasa pandai. Kadang kita gengsi mengakui hal yang sebenarnya karena takut pandangan manusia. Kadang kita gengsi jika harus meminta sesuatu, padahakl kita perlu. Kita gengsi dalam banyak hal sehingga lupa diri.
                Padahal aslinya di hadapan Rabb, kita tidak lebih dari sekedar orang yang biasa saja, sangat hina. Astaghfirullaah!
                Sebiji pisang rebus itu adalah sebuah simbol ketulusan, bahkan sebuah gambaran betapa mulianya seseorang ketika ia mau menghargai sekecil apapun nikmat Tuhannya.
                Janji Allaah dalam Al-Qur’an
Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih (QS Ibrahim [14]: 7)

Semoga kita termasuk orang yang banyak menegur diri!

Jumat, 04 Januari 2013

Damai Bersama-Mu


Jangan Biarkan Damai Ini Pergi Jangan Biarkan Semuanya Berlalu Hanya Pada-Mu Tuhan Tempatku Berteduh Dari Semua Kepalsuan Dunia 
Nggak sengaja ganti channel TV dan kedenger satu lagu lama “Damai Bersama-Mu”..
Langsung mengusik hati saya untuk segera merenung. Bahwa kita Cuma seorang hamba yang sedang menunggu waktu terbaik untuk kembali...
Dan pada masa – masa penantian tersebut hanya kepada-Nya kita memohon perlindungan dari dunia yang serba sementara ini.
               
 Dunia disaat sekarang pasti sudah dipenuhi dengan kemilau yang benar – benar membuat silau. Tak ada yang benar – benar asli. Semuanya buatan manusia.
Tas KW, sepatu KW, gadget KW, bulu mata palsu, warna mata palsu (baca : softlens), warna rambut palsu, sampai tubuh pun bisa dipalsukan dengan berbagai macam operasi..
 Astaghfirullah...tidak cukupkah pemberian Rabb untukmu?

Seringkali kita berpikir bahwa ada banyak hal yang yangmenarik untuk dibeli, untuk disinggahi, untuk dipelajari.
Dan sepertinya semua berkaitan dengan dunia.
Bekal apa saja yang sudah kita siapkan untuk akhirat?
Sudahkah kita punya harta untuk disimpan di sana, tempat kita kembali?
Barangkali kita hanya jadi budak duniawi?
Atau jangan - jangan kita cuma memimpikan kekayaan, materi, ilmu kurang manfaat?
- astaghfirullah

Senyuman, dipalsukan untuk menarik perhatian.
Perhatian dipalsukan untuk menarik simpati.
Simpati dipalsukan agar dikira prihatin.
Keprihatinan dipalsukan agar menarik empati...

Lalu sudahkah TAKWA kita sesuatu yang asli?
Sudahkah IBADAH kita sesuatu yang asli?
Asli yang dimaksud disini adalah ketakwaan dan ibadah hanya karena-NYA..

Sudahkah kita melakukannya? Atau jangan-jangan semua hanya sebuah cara untuk menarik perhatian, simpati, keprihatinan, dan empati..

Belajar tentang kedamaian berarti belajar tentang bagaimana ikhlas.
Bukan karena apa - apa, bukan karena siapa - siapa..

Belajar kedamaian berarti belajar meletakkan segala sesuatu
Kembali kepada penciptanya..
Berserah tentang dunia dan akhirat. Belajar sebaik - baiknya untuk bekal kembali ..

Sudahkah kita?
Mari tanya diri sendiri.. J



Sabtu, 22 Desember 2012

Achid, kenapa ngga mau dipanggil ukhty?

Beberapa orang bertanya seperti itu. Beberapa orang yang mungkin sedikit agak heran dengan pernyataan kalau saya ngga pernah mau dipanggil ukhty.
Di lingkungan saya berkomunikasi setiap hari, lingkungan kampus ataupun media sosial, kami memang terbiasa memanggil dengan 'ukhty', sapaan dalam bahasa Arab..

Lalu apa yang salah dalam panggilan itu?
Tentu saja tidak ada yang salah...

Panggilan ukhty sebuah kebanggaan bagi seorang muslimah, merupakan sebuah identitas yang mungkin dapat diartikan sebegai 'pembeda' dalam lingkungan dakwah.

Lalu apa yang salah dengan 'pembeda' itu?
Tentu juga tidak ada.

Tidak semua pembeda itu buruk. Dibedakan dari lingkungan itu yang membuat saya takut.
Bukan takut dianggap 'sok alim' dan sok - sok yang lain.
Namun takut menjadi sombong.
Naudzubillah min dzaalik..

Allaah selalu tau maksud hati hambanya. Pun ketika mulai muncul perasaan sombong.
Ingin dianggap menonjol dan lebih daripada yang lain.
Saya hanya takut, muncul penyakit hati seperti itu, bukan lebih..

Di titk seperti ini pun, saya merasa masih sangat jau dari kata baik.
Bahwa berusaha selalu baik itu bukan berarti saya yang terbaik.
Tapi saya sungguh takut akan jadi sombong..

Saya pernah berada, bahkan pada lingkungan yang buruk luar biasa.
Tempat yang mungkin tidak pernah ingin kalian datangi jika saja kalian tau mudharatnya.
Saya pernah mencoba banyak hal, yang mungkin jika tau rasanya, kalian benar - benar tidak akan pernah mau mencobanya.

and here i am..
dengan seseorang yang berbeda, mencoba mendapatkan ridho Rabb nya..

Saya masih sama seperti dulu..
cuma bedanya saya selalu berusaha menjadi lebih dan lebih baik
insyaa' Allaah

Kalau melihat teman - teman akhwat di lingkungan kajian, murobbiyah, liqo' dan sebagainya,
pasti sangat terasa ukhuwahnya..
semangat yang menggebu dalam menuntut ilmu..
semangat bersaudara, semangat yang berlandaskan dakwah Lillahi Ta'ala


Karena hakikat dakwah yang sebenarnya bukanlah pada pikiran yang sudah berada pada lingkungan kajian,murrobiyah itu..
Dakwah yang sebenarnya ada pada lingkungan di luar itu..

Namun panggilan ukhty bukannya haram
Silakan meamanggil dengan panggilan kesayangan ittu
sebagai tanda kita bersaudara karena Allaah..

Namun panggilan ukhty bukannya dilarang
Cukup lah dengan 'Achid' saja..

Tidak mau dipanggil ukhty, adalah cara saya untuk tidak membatasi
Antara saya dan lingkungan yang tidak sebaik sekarang
Saya berkaca bahwa pada masa sekelam apapun, hati yang lembut menerima hidayah akan mencari jalannya sendiri..
bahwa perjalanan kembali mencari Robbi, pasti akan terjadi..
Akan ada suatu titik nanti, di mana cuma ada satu jalan..
Perjalanan panjang menuju pulang...

Maka muali sekarang panggilah saya 'Achid'
itu cukup..

Rabu, 21 November 2012

Belajar dari Penjual Sapu

Gambar diambil dari Google.com


Beberapa minggu kepindahan saya di kota solo, membawa saya bertemu seorang penjual sapu. Bapak tua itu, saya tidak yakin bisa menebak usianya dengan pasti, membawa setumpuk dagangan sapu dan berbagai alat kebersihan dengan sepeda tua. Saat itu kami waktu maghrib sudah hampir tiba, saya dan teman saya, memandangnya sedih. Bapak tua itu berjalan sendiri, menuntun sepedanya, langkahnya agak terseok. Kami bersepakat mengejarnya, memberinya sejumlah uang Cuma-cuma tanpa bermaksud menghina.

Beberapa minggu setelah itu, saya melewati pasar Gede. Saya melihat bapak itu lagi. Dengan sepeda yang sama. Dagangannya itu-itu juga. Entah berkurang atau bertambah. Kembali saya menaruh iba. Hanya sejenak berpikir, sudahkah ia makan hari ini? Sudahkah dagangannya laku? Atau jangan-jangan sejak pertemuan pertama memang dagangannya hanya itu. Kali ini, saya tidak meberinya uang. Bukan pelit, tapi sungguh, ada hal lain yang menunggu saya. Ah, semoga Allaah mengampuni...
Kemarin, pemandangan yang sama saya lihat. Dengan sepeda yang sama dan dagangan yang rasa-rasanya sama. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Kadang terlintas untuk mengikuti kemana bapak tua penjual sapu itu pergi, dimana rumahnya, dengan siapa ia tinggal, siapa yang menemaninya ketika harus menghadapi masa tua dengan bekerja dan banyak pemikiran yang saya tidak tahu, sebenarnya harus saya pikirkan atau tidak.

Mau tidak mau, saya harus terpuaskan dengan kesimpulan bahwa bapak tua itu menuntun sepedanya untuk berjualan alat kebersihan setiap hari. Pagi sampai sore. Panas ataupun hujan deras. Laku atau tidak ia harus tidak berhenti mencoba. Karena ada roda sepeda yang harus terus berputar, sapu yang harus dijual, dan perut yang harus kenyang. Intinya hanya itu.
Bercermin padanya membuat saya hancur. Bahkan sampai sekarang saya masih begini saja. Usia yang muda tidak membuat saya mencoba terus. Kadang perasaan jenuh, jengkel, tidak sabar itu datang, ketika sekali gagal. Padahal petlu ribuan kali bangkit untuk berhasil.
Berkaca pada kehidupan penjual sapu otu membuat saya tertampar. Bahkan selama ini saya masih sangat kufur akan nikmat-Nya. Bahkan selama ini saya masih menuntut macam-macam soal hidup saya. Bahkan saya masih berani melukis pelangi buat diri saya sendiri, menyingkirkan keingintahuan saya tentang badai di luar kehidupan saya.

Bahkan saya masih berani bercita-cita beli mobil dengan keringat saya sendiri, sementara bapak itu hanya memutar roda sepeda tua. Bahkan saya masih bermimpi membeli gadget ini-itu, padahal bapak tua itu, entah berapa buah sapu dan alat kebersihan lain yang harus ia jual demi membeli sebungkus nasi.
Bahkan saya masih bisa berkata, betapa malangnya saya bila dibandingkan si A, si B, si C dan lainnya. Padahal saya belum pernah tahu rasanya berjalan kaki menuntun sepeda tua dengan dagangan setumpuk setiap hari. Padahal saya masih mengeluh kalau magh saya kambuh. Padahal saya masih sering menggumam kalau terasqa demam. Sementara ada kehidupan lain di luar sana yang tidak bisa kita bayangkan rasanya jika kita berada di tempat mereka.

Surah Ar Rahman (disebut 31 kali)
 فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?”

Bahkan kita belum bisa berjanji pada diri sendiri. Kelak kalau sudah punya mobil pribadi, gadget bagus, dan rumah yang megah, masihkah kita ingat bersedekah?

Mungkin kita akan lupa rasanya kehujanan di jalan.. Lupa rasanya jengkel diklakson mobil saat naik motor, karena lebih sering meng-klakson motor..

Mungkin nanti kita akan lupa melihat ke bawah, melihat sekeliling kita, melihat orang-orang yang lebih susah...

Mungkin nanti kita akan rindu rasanya berteduh di pinggir jalan saat kehujanan, rindu bertemu bapak tua penjual sapu......

Mungkin nanti kita akan butuh bersyukur, karena lupa cara bersyukur...
Naudzubillah..!

Selasa, 23 Oktober 2012






dalam satu waktu, kita pernah ada pada kotak yang sama
terbingkai dalam satu masa
kita menyebutnya kenangan

kita tidak pernah tau, sepanjang apa kita berjalan
dan kapan kita harus berhenti
cuma Dia yang tau..

sekarang waktumu pulang, Kawan..
tidurlah yang tenang
dalam dekapan Tuhan


innalillahi wa inna ilaihi raji'un..

MAUT

Bismillah..
It was very busy day.. Nggak tau kenapa capek nya luar biasa. Makan juga males, efek home alone soalnya..
Pas nyampe rumah, baca sms temen SMA :"Innalillahi wa inna illaihi roji'un, telah meninggal dunia Nurochim......"
DEG!!Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Sempat kepikir waktu itu. Kok bisa? Sempet rasanya nggak percaya.Soalnya Ochim (panggilannya Nurochim) itu temen sekelas di SMA dan masih terhitung pengantin baru. Kemarin ketemu sama dia dan istrinya pas Ramadhan, buka puasa bareng temen SMA.
Beberapa temen SMA langsung SMS, BBM ke saya. Nanyain kebenarannya. Saya bukan termasuk orang yang selalu dapet kabar tercepat dari teman-teman, lokasi nomaden saya sebabnya. Tapi sayaa tahu, ini serius. Ochim sempet beberapa Minggu opname di Rumah Sakit di Malang. Gagal ginjal. Sepertinya hampir sama seperti Almarhum Bapak. 
Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali? ‪(Maryam: 67)
Dari ada menjadi tidak ada, dari tidak ada menjadi ada. Segala sesuatu yang menjadi kuasa Alloh adalah mutlak menjadi milik-Nya. Termasuk hidup kita yang sementara. Siapa yang mengira?Kemarin, Ayah teman saya. Hari ini teman saya. Mungkin besok saya atau anda, atau siapa saja..Kita tidak akan pernah tahu.
Beribadah, apapun bentuknya, adalah cara yang paling baik ketika kita sedang mengingat kematian. Akan seperti apakah kematian kita nanti?
Bagi orang kafir yang ingkar kepada Allah digambarkan :Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, (an-Naaziat 1)Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka? ‪(Muhammad: 27)Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri). ‪(Al-Anfaal: 50)Sebaliknya bagi orang beriman, Al-Qur’an menyatakan :dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, ‪(An-Naazi’aat: 2)Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. ‪(Fussilat: 30)(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. ‪(An-Nahl: 32)Betapa menakutkan ketika kita berada dalam keadaan kafir, naudzubillah!Lalu apa yang selama ini kita lakukan untuk mempersiapkan MATI?Mari bertanya pada diri-sendiri...

(Telah kusampaikan ya Rabb, saksikanlah)


Senin, 27 Agustus 2012

Pakaian Taqwa (Part 2)








"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita salehah" (H.R. Muslim dan Nasa'i)

 Tak ada yang lebih baik dari mengenakan 'perhiasan' taqwa. Bagi wanita menampakkan tubuh kecuali telapak tangan dan wajah adalah sesuatu yang harusnya dihindari. Mengapa? Karena wanita adalah keindahan dunia. Point of interest dari apapun yang ada. Dan itulah sebabnya eksploitasi tubuh wanita sangat sulit dihindari. Naudzubillah...

Dan tentu tak ada yang lebih baik untuk wanita, selain pakaian taqwa.

Dan pakaian taqwa memiliki persyaratan, diantaranya :

1. Menutupi seluruh tubuh selain yang dikecualikan.
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka… (QS. An Nur : 31)
Ayat yang mulia ini menegaskan kewajiban bagi para wanita mukminah untuk menutup seluruh perhiasan, tidak memperlihatkan sedikitpun kepada orang-orang yang bukan mahromnya kecuali perhiasan yang biasa nampak. Benar, terdapat perselisihan yang cukup panjang tentang anggota tubuh yang dikecualikan tadi.
Namun pendapat terkuat –insyaAlloh- adalah pendapat mayoritas ulama ahli tafsir dan hadits yang mengatalan wajah dan kedua telapak tangan merupakan anggota tubuh yang dikecualikan. Dengan catatan penting sekali, bahwa menutupnya merupakan amalan yang lebih utama, karena inilah contoh yang dipraktekkan oleh sebaik-baik wanita yaitu para wanita sahabat, tabi-in dan tabi’ut tabi’in. Al Hafidh Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Bariy 6/226 : “Merupakan adat para wanita yang senantiasa berlangsung sejak dahulu hingga sekarang, mereka menutup wajah-wajah mereka dari manusia di luar mahromnya.”

2. Tidak ketat sehingga menggambarkan bentuk tubuh
Dari Usamah bin Zaid rodhiyallohu anhu, beliau berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam memberiku baju Qubthiyyah yang tebal yang merupakan hadiah dari Dihyah Al-Kalbi rodhiyallohu anhu kepada beliau shollallohu alaihi wa sallam. Baju itupun aku pakaikan pada istriku. Nabi shollallohu alaihi wa salllam bertanya kepadaku : “Mengapa kamu tidak mengenakan baju Qubthiyyah ?” Aku menjawab : “”Aku pakaikan baju itu pada istriku.” Lalu beliau bersabda : “Perintahkanlah ia agar mengenakan baju dalam di balik Qubthiyyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya. “ (HR.Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan)
Dalam kitabnya Nailul Author 2/97, Al- Imam Asy-Syaukani mengatakan : “Hadits ini menunjukkan bahwa wanita itu wajib menutupi badannya dengan pakaian yang tidak menggambarkan badannya. Ini merupakan syarat bagi penutup aurot…”
Saudariku…Perhatikanlah pesan putri Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, Fatimah binti Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam.. Beliau pernah berpesan kepada Asma’ : “Wahai Asma’ ! Sesungguhnya aku memandang buruk perilaku kaum wanita yang memakai pakaian yang dapat menggambarkan tubuhnya…)”  (Dikeluarkan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dan Baihaqi)
Perhatikanlah sikap Fatimah yang merupakan bagian dari tulang rusuk  Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, bagaimana ia memandang buruk bilamana sebuah pakaian itu dapat mensifati atau menggambarkan tubuh seorang wanita. Oleh karena itu hendaklah kaum muslimin zaman ini merenungkan hal ini, terutama kaum muslimah yang mengenakan pakaian sempit dan ketat yang dapat menggambarkan bentuk dada, pinggang, betis dan anggota badan lainnya. Hendaklah mereka beristighfar kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dan bertaubat kepada-Nya serta mengingat selalu sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya hal yang dijumpai manusia dari perkataan para nabi adalah apabila engkau tak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhori).

3. Kainnya harus tebal, dan tidak tembus pandang sehingga tidak nampak kulit tubuh.
Dalam sebuah hadits shohih, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“ Dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu : Suatu kaum yang memiliki cambuk, seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk onta yang miring, wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan ini dan ini (jauhnya).” (HR. Muslim)
Ibnu Abdil Barr berkata : “Maksud sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya, tapi pada hakekatnya mereka telanjang.” (Lihat Tanwir Hawalik 3/103 karya Imam Shuyuti).

4. Tidak menyerupai pakaian laki-laki
Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu anhu berkata :
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ
“Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Hakim dan Ahmad dengan sanad shohih).
Sungguh meremukkan hati kita, bagaimana kaum wanita masa kini berbondong-bondong merampas sekian banyak jenis pakaian pria. Hampir tidak ada jenis pakaian pria satupun kecuali wanita bebas-bebas saja memakainya, sehingga terkadang seorang tak mampu membedakan lagi antara mana yang pria dan wanita. Mengapa para wanita amat senang memakai pakaian yang mengeluarkan mereka dari tabiatnya? Adakah mereka masih bermoral? Ataukah mereka menghendaki kerusakan di muka bumi ini?!!!

5. Tidak mencolok dan berwarna yang dapat menarik perhatian
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىْ
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah pertama.” (QS. Al-Ahzab : 33)
Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang mestinya ditutup karena hal itu dapat membangkitkan syahwat kaum lelaki. Sungguh aneh tapi nyata, banyak para wanita apabila keluar rumah berdandan berjam-jam dengan sedemikian moleknya, tapi kalau di dalam rumah, di depan sang suami yang seharusnya mendapatkan pelayanan yang menyenangkan, justru biasa-biasa saja bahkan kerap kali rambutnya acak-acakan, bau badan tak sedap dianggap tidak masalah, penampilan menjengkelkan sudah hal yang lumrah, demikian seterusnya. Ini memang kenyataan yang tak bisa dipungkiri lagi. Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala menunjukkan kita semua ke jalan yang benar.
Tapi jangan difahami penjelasan di atas secara dangkal, sehingga timbul suatu pemahaman bahwa pakaian wanita harus hitam saja sebagaimana difahami sebagian wanita komitmen. Alasannya, praktek wanita sahabat tidaklah demikian. Perhatikanlah atsar berikut :
Dari Ibrahim An-Nakho’i bahwa ia bersama Alqomah dan Al-Aswad mengunjungi para istri nabi shollallohu alaihi wa sallam dan melihat mereka mengenakan mantel-mantel berwarna merah..

6. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam pernah bersabda :
من تشبه بقوم فهو منهم
“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. Abu Daud dan Ahmad dengan sanad shohih)
Betapa sedih hati kita melihat kaum hawa sekarang ini begitu antusias menggandrungi mode-mode busana ala barat baik melalui majalah, televisi dan foto-foto tata rias para artis dan bintang film. Setiap kali ada mode busana baru ala barat yang mereka dapati, serentak itu juga mereka langsung mencoba dan menikmatinya. Laa Haula Walaa Quwwata illaa BIllahi

7. Bukan pakaian untuk mencari popularitas
Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar  rodhiyallohu anhu yang berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا
Barang siapa mengenakan pakaian syuhroh (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Alloh mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah dengan sanad hasan)
Maksud pakaian syuhroh adalah setiap pakaian dengan tujuan meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal, yang dipakai dengan tujuan berbangga-bangga dengan dunia, maupun pakaian yang bernilai rendah yang dipakai seorang dengan tujuan menunjukkan kezuhudannya dan riya’.

8. Tidak diberi parfum atau wangi-wangian
Dari Abu musa Al-Asy’ari rodhiyallohu anhu bahwasanya ia berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
“Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.” (HR.Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad,dll dengan sanad shohih)
Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu ia berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :
أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلَا تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ
“Siapapun perempuan yang memakai bakhur (wewangian sejenis kemenyan-pent), maka janganlah ia menyertai kita dalam menunaikan sholat isya’ yang akhir. (HR.Muslim, Abu Awanah,dll)
Ibnu daqiq Al-“Ied mengatakan : “Hadits tersebut menunjukkan haramnya wewangian bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, karena hal itu akan dapat membangkitkan nafsu birahi kaum laki-laki.”
Itulah larangan agama yang diterjang habis-habisan oleh sekian banyak wanita. Coba perhatikan secara seksama, Jikalau ke masjid saja dilarang, lalu bagaimana pendapatmu dengan tempat-tempat lainnya seperti pasar, supermarket, terminal dan sebagainya. Tentu lebih dahsyat dosanya. Sungguh, terasa tidak pernah sepi suatu bus kota dari bau parfum yang campur dengan keringat.
Sampai disini , berakhirlah pembicaraan kita mengenai hakikat jilbab beserta syarat-syaratnya. Kesimpulannya adalah sebagai berikut :
-         Hendaklah jilbab menutupi seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan. Dengan catatan, apabila seorang menutupi keduanya maka ini jelas lebih suci dan utama
-         Tidak ketat sehingga menggambarkan lekuk tubuh
-         Kainnya harus tebal, tidak tipis dan tidak tembus pandang sehingga menampakkan kulit tubuh
-         Tidak menyerupai pakaian laki-laki
-         Tidak mencolok dan berwarna yang dapat menarik perhatian
-         Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
-         Bukan pakaian untuk mencari popularitas
-         Tidak diberi parfum atau wangi-wangian.
Sebagai penutup, kami serukan kepada para orang tua,para suami, para guru, para tokoh agama dan para penguasa, bahwa di pundak kalianlah terdapat suatu beban dan tanggung jawab terhadap siapa saja yang berada dalam kekuasaan kalian.
Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :
كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung-jawaban tentang kepemimpinannya” (Muttafaqun alaihi)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan Rosul apabila rosul menyeru kamu kepada sesuatu kamu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (QS. Al-Anfal : 24).

Dikutip dari : ummushofi.wordpress.com
Sumber : Buletin Dakwah Al-Furqon Edisi 4 Th I Dzulqo’dah 1422H-Januari-Februari 2002
 

Pakaian Taqwa


“Hai anak Adam[530], sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Q.S.Al- A’raaf:26)


Tak ada sesuatu hal yang dilarang dalam islam, tanpa ada maksud. Semua memiliki makna yang luar biasa penting. Terlebih dengan bagaimana cara islam menghormati kaum wanita dengan mengatur cara berpakaian.

Hal inilah yang membuat saya semakin jatuh cinta untuk mempelajari islam. Tak ada sedikitpun celah dalam kehidupan yang tidak diatur. Padahal Al-Qur'an diturunkan berabad-abad yang lalu. Ajaibnya, korelasi kitab Allah itu dengan masa kini benar-benar luar biasa. Itulah yang membuktikan bahwa Al-Qu'an adalah kitab sepanjang masa.

Pemikiran tentang kitab itu akhirnya membawa saya pada masa ini. Mengenai gaya hidup termasuk di dalamnya mode berpakaian. Akhirnya sampailah saya pada ayat surat Al A'raaf : 26.
Betapa banyaknya model berpakaian dengan desain menarik yang sungguh menggoda bagi kaum wanita untuk memakainya, terlebih menggoda kaum lelaki untuk melihatnya. Namun sungguh keindahan wanita lebih dari apapun di dunia ini. Karena wanita adalah perhiasan.

Setiap bagian dari wanita adalah keindahan yang harusnya hanya boleh diperlihatkan kepada orang tertentu, dan hanya boleh diberikan pada orang tertentu.

Jika memilih makanan saja, kita memilih yang tertutup rapat, kenapa tidak dengan pakaian?


Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Alloh adalah Maha pengampun lagi maha penyayang.” (Al-Ahzab : 59)

Maka dengan ayat tersebut, terbuktilah bahwa jilbab bukanlah budaya orang arab, melainkan perintah Allah SWT. Lalu apakah kita hendak melawan perintah-Nya?

Waallahu alam bishawab..........

Nama

aku bertemu banyak nama yang sama sepertimu tiada kata berulang yang mampu membuat analaogi baru seperti saat terdengar nama itu kamu tak ...