Jumat, 15 Maret 2013

Rindu Kami Padamu, yaa Rasul :'(

Bismillaah..

Barusan melihat pakaian Rasulullaah SAW, di foto yang di tag teman di facebook.
Maa sya Allaah, itulah pakaian yang digunakan Beliau SAW semasa hidup. Masih sangat amaze.



Betapa pakaian itulah yang pernah dipakai seseorang yang mulia, kekasih Allaah Ta'ala. Manusia paling baik akhlaknya yang berjuang tanpa henti dalam membela tegaknya tauhid. Laa illaaha' Illallaah, Muhammadan Rasulullaah.

Teringat satu riwayat ketika Rasul SAW diuji. Saat berdakwah, Beliau SAW dipukuli oleh umatnya, lalu Beliau berdoa :

اللهمَّ اغفر لقومي فإنهم لا يعلمُون

"Yaa Allaah, maafkanlah umatku, sesungguhnya mereka tidak tahu."
 Rasulullaah berdoa sambil mengusap darah di wajahnya..

Betapa mulianya..

Disaat sekarang, adakah manusia semulia Beliau SAW?
TIDAK!

Namun, apa yang kita lakukan? Sampai sekarangpun rasanya masih terasa berat ketika hendak menegakkan sunnah-sunnah beliau. Ah, masih jauh sekali daripada kaum terdahulu. Padahal di masa sekarang, cobaan tak seberat dulu.
Astaghfirullaah :'((

Jika Rasulullaah SAW harus babak belur ketika menjadi penyampai Tauhid, maka saat ini di Indonesia sepertinya tidak seberat itu. 

Jika Rasul SAW menyuruh wanita menutup aurat dengan kaffah, rasanya cobaannya hanya dibicarakan. Tak akan ada seseorang yang menarik jilbab kita hingga terlepas. Lalu apa sebenarnya yang menghalangi kita? :'(
[Yaa Rabb, kami berlindung kepada-Mu dari iman yang lemah dan hati yang tidak tulus]


pernah terbaca suatu riwayat saat Beliau SAW sedang sakaratul maut..


Tiba-tiba ada ucapan salam. “Boleh saya masuk?” lelaki itu bertanya. Namun Fatimah tidak mengizinkannya masuk ruangan. “Maaf, ayah saya sedang sakit, “kata Fatimah. Ia berbalik kembali dan menutup pintu.Nabi Muhammad saw. membuka matanya dan bertanya, “Siapa dia, putriku?”
“Aku tidak tahu ayah. Ini pertama kali aku melihatnya,” kata Fatimah lembut.
“Ketahuilah putriku, dia adalah orang yang menghapuskan kenikmatan sementara! Dialah yang menceraikan persahabatan di dunia. Dialah sang Malaikat Maut,” kata Rasulullah saw.
Fatimah menahan genangan air matanya.
Malaikat maut datang kepada-Nya, tetapi Rasulullah saw. bertanya mengapa Jibril tidak datang bersamanya. Kemudian Rasulullah saw. menatap putrinya dengan pandangan nanar, seolah-olah ia tak ingin kehilangan setiap bagian dari wajah putrinya.
Kemudian, Jibril dipanggil. Jibril sebenarnya telah siap dia langit untuk menyambut ruh Rasulullah sang pemimpin Bumi.
“Wahai Jibril, jelaskan kepadaku tentang hak-hakku di hadapan Allah!”, Rasulullah saw. meminta dengan suara yang sangat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka. Para malaikat sedang menunggu ruh Anda. Semua pintu Surga terbuka luas menunggu Anda” kata Jibril. Namun, kenyataannya, jawaban itu tidak membuat Rasulullah saw. lega.

Matanya masih penuh kekhawatiran.
“Anda tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril.
“Ceritakan tentang nasib umatku di masa depan?” kata Rasulullah saw.
“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, saya mendengar Allah berkata:” Aku haramkan Surga untuk semua orang, sebelum umat Muhammad memasukinya, ” kata Jibril. Waktu bagi malaikat Izrail melakukan pekerjaannya semakin dekat dan dekat.
Perlahan-lahan, ruh Rasulullah saw. dicabut.Tampak tubuh Rasulullah saw. bermandikan peluh, saraf lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit ini!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam sallalahu mengerang dengan perlahan.
Fatimah memejamkan mata, Ali yang duduk di sampingnya tertunduk dalam dan Jibril pun memalingkan mukanya.
“Apakah aku sedemikian menjijikkan sehingga engkau memalingkan muka wahai Jibril?” Rasulullah saw. bertanya.
“Siapa yang bisa tahan melihat Kekasih Allah di ambang sakaratul mautnya?” kata Jibril.
“Bukan untuk berlama-lama,” kemudian Rasulullah saw. mengerang karena sakit yang tak tertahankan.
“Ya Allah betapa besar Sakaratul maut ini. Berikan kepadaku semua rasa sakit, tapi jangan untuk Umatku.”
Tubuh Rasulullah saw. mendingin, kaki dan dadanya tidak bergerak lagi.
Dengan berlinang air mata, bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu.
Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw., “Jagalah shalat dan jagalah orang-orang lemah di antara kamu.”
Di luar ruangan, ada tangisan, ada kegaduhan. Para sahabat saling berpelukan. Fatimah menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Sekali lagi, Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw. dan dengan mulut yang telah membiru serta air mata berlinang, Rasulullah berucap lirih: “Ummatii , Ummatii, Ummatii…” “Umatku, umatku, umatku…“ 

dan begitulah saat Beliau meninggal pun, Beliau mengingat ummat. 
Namun pernahkah kita mengingat Beliau?


Allahumma sholli wa sallim 'alaa Nabiyyina Muhammad........


Rabu, 06 Maret 2013

KERUPUK atau STEROFOAM?

diunduh dari ini-caranya.blogspot.com

Bismillaah..

Beberapa minggu kemarin, beredar isu mengenai kerupuk putih (atau biasa disebut kerupuk uyel) sterofoam. #gleg! saya termasuk orang yang kaget. Kenapa? karena saya ini super-duper-kerupuk-lover..

:)))


Actually, kerupuk uyel ini terbuat dari tepung tapioka.

Tapi mungkin karena faktor tertentu, beberapa oknum menambahkannya dengan sterofoam.
*sebenarnya saya ngga tau juga bagaimana cara menambahkan sterofoam ke dalam kerupuk*
:)))

Well, sebenarnya bukan bermaksud kurang menghargai kesehatan atau gimana. Tapi pernah nyadar ngga, beberapa tahun belakangan ini isu-isu mengenai makanan santer sekali terdengar di beberapa berita yang berlabel I-N-V-E-S-T-I-G-A-S-I. Entah itu jajanan formalin, gorengan plastik, minuman dengan zat pewarna atau kasus kerupuk sterofoam ini.

Sebenarnya siapa yang salah?
Saya rasa beberapa oknum memang patut dipersalahkan. Karena demi meraup untung sebanyak - banyaknya, mereka semacam mengesampingkan masalah kesehatan. Bahkan masalah perkembangan anak. Menurut beberapa penelitian, banyaknya zat aditif tersebut dapat menyebabkan penyakit berat seperti kanker atau gangguan sel tubuh.
Eits, tapi tunggu dulu! Kalau dicerna, sebenarnya penyebab adanya makanan dengan zat aditif itu satu : LEBIH MURAH harganya. Produsennya pun memang menetapkan target konsumen mereka pada masyarakat lapisan menengah kebawah yang tidak mampu membeli makanan dengan harga mahal berkualitas baik. Masyarakat pun tentu saja menyukai jika ada makanan enak pinggir jalan dengan harga yang pas di kantong mereka. Dari sini disimpulkan bahwa, masalahnya kembali pada perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Menyoal kerupuk tadi, pernahkah juga kita berpikir, siapa - siapa yang juga dirugikan atas isu kerupuk sterofoam ini? Selain produsen dan konsumen tentunya? DISTRIBUTOR!
Sebelum dijual di warung makan dan restoran, kadang kerupuk dijajakan oleh seorang penjual kerupuk bersepeda ontel dengan karung kerupuk besar di kanan-kiri boncengannya. Usianya memang tak lagi muda. Ditambah dengan beban hidup yang tentu lebih berat dari beban kerupuk yang dibawanya dengan mengayuh sepeda tiap hari. Di kota saya sekarang, Solo, pemandangan itu sering sekali saya lihat. Hanya terpikir jika saja isu kerupuk itu benar-benar mempengaruhi masyarakat, bagaimana penjual krupuk itu mengepulkan asap dapurnya? Sementara harga kerupuk itu tidak pernah mahal. Dan pasti tidak pernah berlebihan.

diunduh dari andy.web.id


Nah, sebagai konsumen yang hidup di abad 21, memang kita harus waspada. Memilih makanan apa yang harus kita makan. Namun selektif bukan berarti harus memusuhi semuanya. Dari 1000 tukang gorengan mungkin hanya setengahnya yang curang. Dari banyaknya krupuk ber-sterofoam mungkin masih ada produsen kerupuk yang jujur dalam pembuatannya. Lagipula, umur itu milik Allaah Ta'ala. Kalaupun kita keracunan atau sakit, saya rasa bukan karena krupuk. Namun bisa jadi, itulah bentuk rasa sayang Allaah kepada kita.
Terlebih, sekarang berpikirlah. Di usia yang sudah senja. Bapak pedagang kerupuk yang mengedarkan kerupuk itu masih setia mengayuh roda sepeda. Ia merasa lebih baik seperti itu daripada meminta-minta.

Bagaimana dengan saya?
Tidak peduli sterofoam atau formalin. Makan nasi, kerupuk, dan sambal kecap, menurut saya adalah surga kedua di dunia, setelah pangkuan ibu saya.
:D



Minggu, 03 Maret 2013

Tentang Solo, Tentang Hijrah

Bismillaah..

Alhamdulillaah..
September, Oktober, November, Desember, Januari, Februari, dan sekarang sudah masuk bulan Maret.
Kepindahan saya di Solo atau kota yang nama resminya Surakarta ini menjadi suatu langkah yang saya anggap langkah pertama saya bertolak.

Enam bulan sudah...
rasanya luar biasa di kota ini.

Jika hendak membandingkan antara kota yang sekarang dengan yang sebelumnya (Jakarta), pasti bedanya jauh banget.

  1. Ngga pernah naik kendaraan umum. Alhamdulillaah Allaah mempercayakan kendaraan sendiri untuk saya. (Tentu saja lewat tangan mulia Ibu-Bapak, hihi)
  2. Ngga pernah kena macet traffic light yang lampunya lebih dari 60", kalau di Jakarta ada yang sampai detik 200 (lampu merah Pertanian, hiihii)
  3. Punya lebih banyak waktu untuk belajar ilmu agama, melalui Kajian Rutin di Masjid Nurul Huda UNS. Dulu waktunya sangat sedikit, bahkan hampir tidak pernah.. hiks~ Ampuni yaa Rabb..
  4. Punya lebih banyak waktu untuk pulang ke Blitar. Meskipun tidak terlalu sering, tapi sekarang lumayanlah. Bisa lumayan sering punya waktu bareng Ibu.
  5. Punya kesempatan belajar ilmu-ilmu baru di kampus Maa sya Allaah :')
  6. Punya kesempatan bertemu teman baru, saudara baru yang artinya juga membangun ukhuwah yang lebih baik In syaa Allaah :')
  7. Ada satu lagi yang lebih menyenangkan...bergabung dengan JNUKMI (Jamaah Nurul Huda Unit Kegiatan Mahasiswa Islam) Universitas Sebelas Maret Surakarta. Luar biasa! :') Dan alhamdulillaah Jumat kemarin kami sudah dilantik. Allaahu Akbar!
Menyoal dua hal. UKMI dan juga kuliah. Adalah dua rasa syukur yang tak pernah berhenti terucap pada Allaah Ta'ala dan juga kedua orangtua, mengingat dari tangan beliau lah akhirnya saya kembali kuliah.
Setelah lulus D3 - Penyiaran saya sempat bekerja di salah satu perusahaan X. Sedikit memang membuat saya tidak betah, itu adalah sistem kerja yang tidak bisa saya terima. Sistem kerja perusahaan yang kurang saya suka (ternyata) dan juga oknum di dalam perusahaan yang berbuat curang. Jujur, saya merasa berdosa. Saya sadar bahwa apa yang dijelaskan pada saat interview tidak lebih hanya sebuah pemanis yang ternyata pahit sekali. Saya memutuskan resign. 

Sampai pada akhirnya, satu advice yang saya terima adalah untuk masuk kembali ke bangku kuliah. Dan singkat cerita, mendaftarlah saya ke perguruan tinggi negeri itu. UNS, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta. Di sanalah kemudian saya melanjutkan pendidikan dengan predikat Mahasiswa Matrikulasi S1 Transfer Prodi Ilmu Komunikasi. Gelar yang amat panjang. Dan proses yang panjang. Kenapa? Untuk pindah dari Jakarta ke Solo itu luar biasa prosesnya. Dari packing-kirim barang-sampai saya sendiri berangkat ke Solo, termasuk di dalamnya beberes-rumah-kontrakan :)))) Setelah itu UNS pun menyambut dengan ujian matrikulasi yang lumayan serius. Karena tentu saja ujian itu berpengaruh terhadap diterima atau tidaknya kami di UNS.

Masuk dalam kelas S1 Transfer Prodi Ilmu Komunikasi, jujur sedikit membuat minder. Kenapa? Karena saya adalah satu-satunya Mahasiswa (dari sekitar 70 orang mahasiswa Transfer 2012) yang berasal dari BUKAN kampus negeri :')
Terbayang ngga, seorang Mahasiswa kampus BSI yang sungguh biasa saja bergabung dengan mahasiswa lain dari kampus keren seperti UI,UNS,UNS,UNDIP,IPB.. ngerasa kecilllll banget.. hiks~
Tapi akhirnya dengan semangat, alhamdulillaah matrikulasi pun berhasil dilalui dengan IP 3,7 sekian hehehe..

Kegalauan yang kedua adalah, keputusan untuk masuk UKMI. 
Saya yang notabene masuk kuliah pada tahun 2008 harus bergabung dengan mahasiswa angkatan 2012 dan 2011. merasa paling tua dewasa :')
Tadinya sih masuk UKMI gara-gara saya ingin sekali mensinkronkan antara program @pedulijilbab dan UKMI dengan masuk bidang Nisaa', tapi mungkin karena bidang broadcast dan jurnalist sebelumnya, maka Tim Formatur (penyeleksi) pun memasukkan saya di Bidang Tindak Isu. Tugasnya nggak akan jauh dari nulis. tenang aja! :D
Di UKMI dengan 'rumah barunya' (Masjid NH yang baru selesai renovasi) dan juga dengan amanah baru untuk saya. Yahh, sedikit banyak memberikan warna baru. Saya berharap bisa membagi waktu antara keduanya dengan baik dan meninggalkan sedikit kenangan manis untuk UKMI.

Maka perjalanan Tentang Solo, Tentang Hijrah pun mulai terisi banyak warna baru. Menggelayuti setiap detik kehidupan yang akan dan sedang saya lewati.
Jujur hijrah ini menjadikan hijrah terbesar untuk semua hal, secara lahir dan batin.

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?" (Ar-Rahmaan)

Karena nikmat Allaah Ta'ala itu memang tak berbatas. Maka kita benar tak pantas untuk mendustakannya. Dan nikmat-Nya yang masih mengijinkan saya untuk belajar lagi dan lagi, semoga tidak pernah habis. Aamiin yaa Malik..

Dan pada saatnya nanti,. kenangan-kenangan itu akan terukir indah. Sebagai saksi perjalanan panjang yang pernah saya dan kita lewati bersama sebagai bekal menuju jannah-Nya.




Senin, 18 Februari 2013

Ummu Umarah : Perempuan dalam Perang


Belakangan kayanya seru banget yang ngobrolin tentang kesetaraan gender, termasuk salah satu mata kuliah di kampus saya. Dari sudut pandang saya, sempat ngga setuju memang dengan kestaraan gender yang sekarang ini sepertinya lebih condong ke liberalism. Tapi siapa bilang  kesetaraan gender itu cuma punya liberal? Berabad-abad yang lalu, islam ternyata juga punya tokoh perempuan yang luar biasa. Kenapa? Karena ia adalah pejuang perempuan di zaman Rasulullaah SAW.

Nama asli beliau adalah Nusaibah binti Ka'af Al-Anshariyah, dikenal dengan Ummu 'Umarah. Beliau merupakan salah satu pejuang islam yang berani terjun ke medan perang. Beliau pejuang wanita yang berani menghadapi bahaya dalam perang dan serangan musuh. Namun, Ummu 'Umarah dan perempuan-perempuan muslim saat itu berjuang total sebagai penyedia logistik para mujahid. Bahkan, jika keadaan mendesak, mereka diminta untuk menyandang pedang.

Ummu 'Ummarah adalah salah satu dari sembilan kaum Anshar yang berbai'at kepada Rasulullaah pada bai'at Aqabah kedua. Sebagai sosok cerminan ketegaran, serta kepatuhan, Ummu 'Umarah disebut-sebut Imam Adz Dzahabi sebagai wanita utama dari kalangan Anshar, Khazraj, Najjar, dan Mazin. Sebagai pejuang lapangan, Ummu 'Umarah aktif terpanggil seruan Perang Uhud, Perdamaian Hudaibiyah, Perang Hunain, dan Perang Yamamah.

Saat Perang Uhud, Ummu 'Umarah berjuang bersama suami dan kedua anaknya. Pada awalnya ia bertugas membawakan air minum dengan qirbah (tempat air). Namun pada saat pasukan islam semakin terdesak, ia pun terjun langsung dalam pertempuran hingga mendapat belasan luka di tubuhnya. Saat itu banyak pasukan mulai meninggalkan Nabi SAW, termasuk seseorang yang kemudian pedangnya digunakan oleh Ummu 'Umarah. Semangat perang Ummu 'Umarah yang sibuk mengayunkan pedang dan merawat korban terluka smpai-sampai membuatnya tidak mengatahui salah seorang anaknya terluka parah, sebelum mendengar teriakan Rasulullaah SAW pada putranya, "Hai Abdullah, kau ikat lukamu dulu baru teruskan bertempur lagi!"

Mengetahui anaknya dalam bahaya, Ummu 'Umarah segera mendekati dan mengobati luka putranya. Setelah merawat luka anaknya yang cukup parah itu, sebagai ibu yang bijak, Ummu 'Umarah menyemangati putranya untuk kembali ke pertempuran. Melihat ibu dan anak ini, Rasulullaah SAW terharu dan memujinya. Sabda beliau, "Siapakah yang sanggup melakukan sebagaimana kau lakukan ini, yaa Ummu 'Umarah?"

Dari sebuah arah, datanglah orang yang sebelumnya melukai putra Ummu 'Umarah. Rasulullaah SAW memberitahu keberadaan orang itu padanya. Tanpa banyak kata, Ummu 'Umarah segera menghadang orang itu. dan menghantam kakinya dengan keras. hingga orang tersebut terduduk ke tanah.

Peerjuangan Ummu 'Umarah diriwayatkan oleh Imam Adz Dzahabi dari cerita putranya. Dalam ceritanya, Rasulullah sempat memanjatkan doa atas Ummu 'Umarah dan Abdullah, putranya untuk menjadi sahabat-sahabat beliau di surga. Hal ini karena semangat ibu-anak ini dalam melindungi Rasul SAW di kala banyak yang meninggalkan.

Perjuangan Ummu 'Umarah masih berlanjut ketika Rasulullaah SAW wafat. Saat itu muncul Musailamah al Kadzab yang mengaku nabi. Huabaib (salah satu putra Ummu 'Umarah) ditawan pendusta tersebut saat kaum muslim memeranginya. Ummu 'Umarah tetap tegar membela Nabi SAW bahkan ketika akhirnya Hubaib meninggal mengenaskan disiksa Musailamah. Mendengar berita meninggalnya Hubabib, Ummu 'Umairah berjanji pada Allaah SWT dan memohon pada-Nya agar ia juga meninggal di tangan Musailamah atau ia yang akan membunuh Musailamah.

Maka Ummu 'Umarah pun mengikuti Perang Yamamah. Namun dalam perang ini tangannya terpotong sebelum dapat membunuh Musailamah. Meskipun begitu, ia kembali bersemangat melihat Abdullah anaknya mengusap pedang dengan pakaiannya. Ternyata putranya, Abdullah telah berhasil membunuh Musailamah, seorang nabi palsu. Ummu 'Umarah pun bersujud syukur. Kemuliaan Ummu 'Umarah berakhir sebagai pejuang yang berani dan meninggal di medan perang yaitu Perang Yamamah.

Hikmah dari perjuangan Ummu 'Umarah ini menunjukan islam pun memiliki sisi demokratis selama masih dalam batas aturan yang sesuai syari'ah. Beberapa pihak yang membenci islam pasti akan menuduh islam sebagai agama yang mengikat pengikutnya serta tidak adil dalam menempatkan ruang gerak perempuan. Selain itu semangat juang Ummu 'Umarah dan ke-istiqomah-an patutlah kita contoh. Semoga Allaah SWT menempatkan Ummu 'Umarah bersama para syuhada' di surga-Nya. Aamiin.


Disadur dari tulisan  'Ummu 'Umar"
(Majalah Salafy Edisi VII/Shafar/1417/1996 halaman 68-69),
dengan beberapa perubahan

Bayar Utang

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Inspirasi itu datang dan pergi sesuka hati.

Eits, apa sih maksudnyeeeh??

:D

Ini adalah sebentuk cara ngeles, karena berbagai tulisan yang cuma jadi notes di laptop, dan ngga pernah diposting atau belum diposting, in syaa Allaah hari ini bakal diposting *dancing*.

Jadi jangan kaget kalau habis ini ada banyak postingan yang dipost pada hari yang sama.

RAJIN? jauh dari itu!
justru karena saya malesss banget belakangan ini.. (pliss jangan diomelin)

Maka marilah sejenak kita memejamkan mata. Membaca 'basmallah' trus mulai membaca.

Silakan tinggalkan komentar.
:)

Jazakumullaah khayraan katsiiraan

Minggu, 10 Februari 2013

TABARRUJ #1 (bercelak, sepatu hak tinggi)


Pertanyaan :
Marak di kalangan remaja putri kebiasaan memotong rambut hingga pundak dalam rangka berdandan. Demikian pula memakai sepatu bertumit sangat tinggi dan bermake-up. Lantas apa hukum dari perbuatan-perbuatan tersebut ? Pertanyaan berikutnya, apa hukum memakai celak bagi wanita dan juga bagi lelaki ?

Jawab :
Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad ibnu Shalih Al Utsaimin rahimahullah memberikan fatwa dalam masalah diatas.
“Potongan rambut wanita bisa jadi modelnya menyerupai potongan rambut laki-laki dan bisa jadi tidak. Bila sekiranya modelnya seperti potongan rambut laki-laki maka hukumnya haram dan termasuk dosa besar, karena Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam MELAKNAT wanita yang tasyabbuh/menyerupai laki-laki. Bila modelnya tidak sampai menyerupai laki-laki, maka ulama berbeda pendapat hingga menjadi tiga pendapat. Diantara mereka ada yang mengatakan boleh, tidak mengapa. Diantaranya ada yang berpendapat haram. Pendapat yang ketiga mengatakan makruh. Yang mahsyur dari madzhab Al-Imam Ahmad adalah perbuatan tersebut makruh.

Sebenarnya, memang tidak sepantasnya kita menerima segala kebiasaan dari luar yang datang pada kita. Belum lama dari zaman ini, kita melihat para wanita berbangga dengan rambut mereka yang lebat dan panjang. Tapi kenapa keadaan mereka pada hari ini demikian bersemangat memendekkan rambut mereka ? Mereka telah mengadopsi kebiasaan yang datang dari luar negeri kita. Saya tidaklah bermaksud mengingkari segala sesuatu yang baru. Namun saya mengingkari segala sesuatu yang mengantarkan perubahan masyarakat dari kebiasaan yang baik menuju kebiasaan yang diambil dari selain kaum muslimin.

Adapun sandal ataupun sepatu yang tinggi, tidak boleh digunakan apabila tingginya diluar kebiasaan, mengantarkan pada tabarruj, dan (dengan maksud) mengesankan si wanita tinggi serta menarik pandangan mata lelaki. Karena Alloh ‘azza wa jalla berfirman :
“Janganlah kalian bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliah yang awal.” QS. Al-Ahzab; 33

Maka, segala sesuatu yang membuat wanita melakukan tabarruj, membuat ia TAMPIL BEDA daripada wanita lainnya, dengan maksud berhias, maka haram, tidak boleh dilakukannya.
Tentang pemakaian make up, tidak mengapa bila memang tidak memberi madharat atau membuat fitnah.

Masalah bercelak ada dua macam :
Pertama : Bercelak dengan tujuan menajamkan pandangan mata dan menghilangkan kekaburan dari mata, membersihkan mata dan menyucikannya tanpa ada maksud berdandan. Hal ini diperkenankan. Bahkan termasuk perkara yang semestinya dilakukan (bagi lelaki maupun wanita, pen). Karena Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam biasa mencelaki kedua mata beliau, terlebih lagi bila bercelak dengan itsmid.

Kedua : Bercelak dengan tujuan berhias dan sebagai perhiasan. Hal ini dituntut untuk dilakukan para wanita/istri, karena seorang istri dituntut berhias untuk suaminya. Adapun bila lelaki memakai celak dengan tujuan yang kedua ini maka harus ditinjau ulang masalah hukumnya. Saya sendiri bersikap tawaqquf  (tidak melarang tapi tidak pula membolehkan, pen) dalam masalah ini. Terkadang pula dibedakan dalam hal ini antara pemuda yang dikhawatirkan bila ia bercelak akan menimbulkan fitnah, maka ia dilarang memakai celak, dengan orang tua (lelaki yang tidak muda lagi) yang tidak dikhawatirkan terjadi fitnah bila ia bercelak.” [Majmu'ah As'ilah Tuhimmu Al Usrah Al-Muslimah, hal.8-11]


Dalam masalah sepatu bertumit tinggi, Al-Lajnah Ad-Daimah lil BUhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’ yang saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Al-Walid Abdul Aziz ibn Abdillah ibnu Baz rahimahullah memfatwakan, “Memakai sepatu bertumit tinggi tidak boleh, karena dikhawatirkan wanita yang memakainya beresiko jatuh. Sementara seseorang diperintah secara syar’i untuk menjauhi bahaya berdasarkan keumuman firman Alloh :
“Janganlah kalian menjatuhkan diri-diri kalian kepada kebinasaan.” QS. Al-Baqarah ; 195
“Janganlah kalian membunuh jiwa kalian.” QS. An-Nisaa’ ; 29

Selain itu, sepatu bertumit tinggi akan menampakkan tubuh wanita lebih dari yang semestinya (lebih tinggi dari portus sebenarnya, pen). Tentunya yang seperti ini mengandung unsur PENIPUAN. Dengan memakai sepatu bertumit tinggi berarti menampakkan sebagian perhiasan yang sebenarnya dilarang untuk ditampakkan oleh wanita muslimah.

Alloh ‘azza wa jalla berfirman :
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami-suami mereka atau bapak-bapak mereka atau bapak-bapak mertua mereka (ayah suami) atau anak-anak laki-laki mereka atau anak-anak laki-laki dari suami-suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka atau anak-anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka (keponakan laki-laki dari saudara lelaki) atau keponakan laki-laki dari saudara perempuan mereka atau dihadapan wanita-wanita mereka.” QS. An-Nuur ; 31
[Fatwa no.1678, Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 17/123-124]

-disalin ulang dari majalah AsySyariah ; rubrik Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah-

disadur dari sini....

Sabtu, 09 Februari 2013

Buat Bapak yang Jauh di Sana

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Assalamu'alaykum Pak,
Lama sepertinya kita tak saling memandang kecuali melalui foto.
Semoga Allaah senantiasa melindungi Bapak,
seperti halnya Allaah selalu melindungi aku dan ibu.

Bapak, aku yakin tanpa bertanya, pasti Bapak tau kenapa kutulis ini.
Ya, Pak..
Setumpuk rindu itu sudah minta dikirimkan ke tujuan.
Rupanya ia tak sanggup lagi bertumpuk kecuali hanya air mata.
Seperti yang kuucap dalam doa setiap habis shalat.
Dengarkah, Pak?

Tahun ini usiaku berkurang lagi.
Ah ya, Bapak sudah tahu.
Allaah begitu menyayangiku sehingga tahun-demi tahun aku selalu diingatkan-Nya.
Saat ini in syaa' Allaah segalanya semakin baik.
Doakan ya, Pak biar lebih baik.

Ah, Bapak.
Tak tahukah kau betapa rindu ini kadang membuncah tanpa terkendali.
Sungguh aku merindukanmu, Pak.
Rindu saat-saat kamu membelaiku saat tertidur.
Aku rindu masa itu.





Rasanya ingin kulempar sebuah surat dalam botol.
Berharap di sana kau membaca.
Tak akan putus doaku untukmu, Pak.
Suatu saat kita bisa bertemu dalam tempat yang lebih baik di hadapan-Nya.

Doaku juga,
Semoga kau tak pernah berhenti mencintai Rasulullaah..
-suatu saat akan kukenalkan untukmu-
Akan kulakukan apa yang dulu belum ku lakukan.
Lillaahi ta'ala.

Aku tau kau milik-Nya
Keputusan-Nya selalu tepat.
Mengambilmu saat itu kadang membuatku bersyukur karena tugas mu telah selesai.
Meski apu sulit menerima awalnya
Tapi tak apa.
Biar kulanjutkan perjalananku setelah ini.

Sudah dulu ya, Pak
Mataku tak kuat lagi rupanya.
Beristirahat ya Pak..dengan tenang..dalam kedamaian..

"Semua yang dari ALLAAH, akan kembali kepada ALLAAH.. "

Bapak,
semoga kau bahagia disana.


dari anakmu,
Astrid






Nama

aku bertemu banyak nama yang sama sepertimu tiada kata berulang yang mampu membuat analaogi baru seperti saat terdengar nama itu kamu tak ...